Skip to main content

Posts

Showing posts with the label nalar

ditulis oleh ibu

1. Waktu yang terlewat menyadarkan aku  akan banyak hal, Ribuan gundah hampir tak mampu terbendung disini, kisah tercipta dari setiap langkah yang ditapakkan membentuk harmoni yang aku sendiri hampir tak mengenalinya. Sungguh.. aku tak menginginkan wujud yang seperti ini. Yang menyakiti hatiku hatimu hati kita. Nampaknya aku sudah jatuh cinta, cinta yang jika aku diminta untuk menerjemahkannya, maka aku tak bisa menjabarkannya. Dia memberikanku puisi tentang balon hijau dan sipatu gelang setelah aku menodongnya,  Rasanya aneh;  ini salahku` krn aku yg  meminta. Aku ingat 24 wajah oleh Billy yang sudah usang, yang sudah tak beraturan, tapi aku memungutnya dari tong sampah hanya krn aku teringat banyak wajahku untuknya. Rasanya ingin langsung membacanya sampai habis pada malam itu juga. Hmffhhh,,, 2. Dengan segala keterbatasan pengetahuanku akan dunia, dengan segala sesuatu yang sudah aku miliki, dan dengan kenyataan yang begitu membumi. Aku h...

Perang Yang Takkan Pernah Kita Menangkan*

Gelombang sakralisasi Rockefeller meriak , ribuan borjuasi bomber bersembunyi dalam ketiak , apa yang kalian pahami tentang jatah arak?, Diatas meja starbuck dengan ribuan gelak, Apa bedanya dasimu dengan usus para martir perang yang berurai?, Memamah setiap sudut kepekatan belukar, Serta ribuan nyawa, nyawa yang kau tukar dengan setumpuk kelakar atas nama ekonomi liberal, apapun dalihmu, dalih tentang fluktuasi angka dalam papan bursa saham, sama saja dengan lubang pantat retorika warfound ala hitler, mengalih nama dan angka-angka kedalam brangkas George soros hingga teler. Aku tak akan mengenang nama besarmu kecuali kau tertimbun dalam kakus neraka yang sama sekali tak kau kenali, tanpa tanah pemakaman digali, dengan ribuan tonjokkan Muhammad ali, yang tangan dan kakimu terikat dalam tali, dan setelahnya tanpa bisa mengakali. Anjing! Serapah mengayuh dengan ribuan dentuman meriam di Gaza, tank yang kalian ciptakan serupa himbauan jalan ketiga giddens, dengan jatah neraka masing-masin...

Kenyataan adalah saat ini

Kita tidak pernah tau sampai sesuatu tiba didepan mata, tapi setidaknya kita bisa meramalkan atau menggunakan feeling kita yang terkadang membawa kita kegerbang kenyataan. Kita juga memiliki imajinasi-imajinasi yang terkadang merusak pikiran-pikiran kita yang membawa kita dalam dunia maya, dunia yang penuh dengan pengaturan. Pengaturan yang dirancang oleh diri kita sendiri. Aneh… tapi… nyata dalam arti pikiran-pikiran seperti itu memang benar adanya, mungkin hampir setiap kepala manusia. Selagi dapat mengembangkan atau selagi masih dapat membaca mana maya dan mana yang nyata kurasa itu sah-sah saja. (Lely Susilawati) Berita di TV mengabari seluruh Bangsa Indonesia tentang kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh Pangeran Kesultanan Kelantar Malaysia, Tengku Muhammad Fakhry kepada istrinya yang berbangsa Indonesia itu, Manohara Odelia Pinot. Kopi dimeja masih belum saya sentuh, masih panas, tapi rokok sudah mengepul sejak saya bangun. Berita lain yang tak kalah serunya adala...

Seperti Ini;

ini yang paling rumit, bumi atas nama agusgoh (catet).aku juga rumit, dan tentu, liar.bahkan lebih liar dari apapun yang hinggap dipikiran mu...;lalua ku hanya bagian kecil dari serentetan kesibukan bumi ini...tp ada banyak yang tidak aku mengerti, yang, kemudian aku paksakan untuk selalu dipahami..., aku sadar, bahwa hidup hanyalah penumpukan sejarah2, hanya dikenang, dipelajari, lalu hilang...mungkin hanya gaungnya saja yang melekat. dan, tentu ada banyak gaung yang sempat kita tau. aku sebut :hanya bagian kecil dari serentetan kesibukan bumi ini... sekalipun begitu, aku hanya ingin berjalan dari jalan yang dilalui raja-raja...betapapun letihnya jalan itu...tp ini seperti kata 'Cinta' yang setiap orang tau itu. yah..., anggap demikian. ada Tuhan, yang kemudian aku baru sadari bahwa Tuhan bicara dengan segala bahasa, gunung2, kitab, pikiran kita, laut api, dan seluruh yang kita kenal dan tidak kita ketahui. kita, aku hanya bisa melihat banyaknya 'pertanda' Tuhan... men...

Para Alchemist

Ada para Alchemist dalam bahasa Paulo Coelho; mengubah besi menjadi emas...aku pikir ini sepadan dengan aliran eksistensializmnya Jean Paul Sartre yang mengatakan tentang pentingnya imajinasi, hingga ' psikologi imajinasi'nya mencuat menjadi bahasa yang sulit untuk dipahami, tetapi aku setuju dengan ide itu, bagaimana kemudian kita mempunyai satu ruh bernama imajinasi dalam diri kita. aku berfikir begini, apapun yang dibentuk oleh manusia hingga kemudian menjadi sebuah bangunan anggun, hanyalah sebuah akumulasi realistik dari imajinasi kita yang liar. para Alchemist dijaman sekarang adalah para enterpreneur masa mendatang, yang lalu mengubah apapun menjadi sesuatu yang banyak dipakai masyarakat, dibutuhkan, dan menjadi bagian penting dari hidup ini...apapun itu, termasuk sampah sekalipun. (2007)

ERA INFORMASI…

Selamat datang di Era Informasi…! Kalimat itulah yang setidaknya pantas untuk dikatakan pada dunia tentang segala sesuatu, dengan beribu-ribu perubahan yang kita rasakan begitu cepat. Dunia dengan segala kelimpahan yang ada, berhasil menciptakan hal diluar dugaan manusia itu sendiri yang notabene adalah pencipta mainan bagi dirinya sendiri. Manusia, dengan segala kecerdasan yang dimilikinya berhasil menciptakan tekhnologi sebagai evolusi sejarah bagi peradaban ini. Dengan sangat luar biasa pula, tekhnologi menjadi alasan pemenuhan kebutuhan berjuta-juta orang di dunia. Kita akan runut pada era sebelum era informasi muncul, yaitu Era Pertanian, pada era ini banyak tuan tanah berkuasa atas sawah-sawah, perkebunan, dan banyak hal berbau pertanian. Kedua adalah Era industry, sejak Eropa menjadi kawasan bagi pabrik-pabrik besar untuk pembangunan infrastruktur, utilitas, dan lain sebagainya, menjadikan jaman itu disebut-sebut sebagai jaman bagi perubahan baru, menjadi pekerja diperusahaan me...

Tapi kamu pergi diam-diam

aku seharusnya menyadari dari awal bahwa kamu belum memahami tentang kerjasama kita sepenuhnya, dan ada banyak orang sepertimu : teman-teman terbaikku, ah…sudahlah, mereka telah pergi, ini bukan salah mereka, tetapi salahku yang kadang mengabaikan mereka, kadang membuat mereka terjerat kesulitan, kadang mereka terlibat dengan lintasan berbahaya yang aku punya, kadang membuat mereka tidak mengerti dengan rencana dalam pikiranku. Kamu tahu? Bahwa aku tidak sepenuhnya bisa mengendalikan mereka, mereka punya hidup, mereka boleh mengabaikan semangatku, mereka boleh menghantamku, mereka boleh berkhianat, mereka boleh mencintaiku sekaligus membenciku, mereka boleh membicarakan semua detail tentangku, dan mereka boleh tidak setuju dengan beberapa ide yang aku punya, termasuk, mereka boleh pergi kapanpun. Sekalipun telah aku katakan dalam fase tertentu bahwa aku mencintai mereka sepenuhnya, mereka sulit untuk aku dapatkan: orang yang mengerti tentang rencana-rencana kita dari awal. Teman-teman ...

untukmu : hidup

nafas seperti pedang memburu, ia terus berkelebat menghunus jantungmu, hingga nafas itu membeku; aku kemudian mati: dengan cara apapun. tulisan ini hanya dipersembahkan kepadamu : kalian yang pernah ada disepanjang labirin hidupku, yang pernah menyakitiku, membenamkan kepalaku, menghantam mukaku, menciumku, memelukku, tersenyum, dan tertawa denganku, membenciku, menolongku hingga kalian menderita sendiri, mengabaikanku, membuatku merasa kecil, membuatku menjadi sombong. aku akan katakan bahwa aku masih manusia seperti kalian...yang kata dan tindakannya bisa saja meleset.

Rima Murung

Melayat hari-hari seperti melihat ribuan duka memanjang, kesulitan yang entah berapa panjang lagi akan kuarungi, aku mendapati banyak sekali kabar murung, hentakan, denyutan seperti detak saat jantungmu terbakar. Kengerian ini seperti janji masa lalu yang pernah ada pada masa kanak-kanak dulu; aku pernah membayangkannya pada saat itu, saat dimana aku masih bocah SD di Muntilan Magelang, ya, aku ingat : aku pernah membayangkan kegerian orang dewasa; sepertiku sekarang ini. Aku pernah ingat temanku seorang psikiater bernama Mahmudim pernah bilang bahwa aku akan sanggup melalui fase seburuk apapun, jika aku merasa tidak mampu, itu hanya getar saja, sesungguhnya tidak sengeri itu; ia yakin bahwa Tuhan baik padaku dengan memilihkan peperangan untukku sendiri, dan setiap orang memilih peperangannya sendiri. Mfuuuh…, rasanya terlalu lelah untuk aku imbangi rimanya. Jalannya terlalu gelap dan penuh dengan bahaya. Dan tentu, terlalu panjang bagiku, bertahun-tahun sudah gelap ini, hanya itu yan...