Skip to main content

Rima Murung

Melayat hari-hari seperti melihat ribuan duka memanjang, kesulitan yang entah berapa panjang lagi akan kuarungi, aku mendapati banyak sekali kabar murung, hentakan, denyutan seperti detak saat jantungmu terbakar. Kengerian ini seperti janji masa lalu yang pernah ada pada masa kanak-kanak dulu; aku pernah membayangkannya pada saat itu, saat dimana aku masih bocah SD di Muntilan Magelang, ya, aku ingat : aku pernah membayangkan kegerian orang dewasa; sepertiku sekarang ini.

Aku pernah ingat temanku seorang psikiater bernama Mahmudim pernah bilang bahwa aku akan sanggup melalui fase seburuk apapun, jika aku merasa tidak mampu, itu hanya getar saja, sesungguhnya tidak sengeri itu; ia yakin bahwa Tuhan baik padaku dengan memilihkan peperangan untukku sendiri, dan setiap orang memilih peperangannya sendiri.

Mfuuuh…, rasanya terlalu lelah untuk aku imbangi rimanya. Jalannya terlalu gelap dan penuh dengan bahaya. Dan tentu, terlalu panjang bagiku, bertahun-tahun sudah gelap ini, hanya itu yang aku rasakan…, dan sepi yang akut, derita yang sudah sekian lama aku setubuhi, bisu yang membenamkan seluruh gairah-gairah ini, kemarahan yang hampir tidak punya darah, deritanya hampir bisa kunikmati sendiri.

Sekarang aku hanya ingin menulis, sekedar menulis, hanya ingin berbagi kengerian dan kegelapan. Mungkin bersama kalian…mungkin bersama rasa sakit yang mendera…mungkin kelak denganmu bisa mengusir rasa sepi…dan mencintai apapun dengan bangga…(goh)



Comments

Anonymous said…
Sahabat Terbaik Adalah Itu Sahabat Dari Tangan Tuhan

Popular posts from this blog

Perang Yang Takkan Pernah Kita Menangkan*

Gelombang sakralisasi Rockefeller meriak , ribuan borjuasi bomber bersembunyi dalam ketiak , apa yang kalian pahami tentang jatah arak?, Diatas meja starbuck dengan ribuan gelak, Apa bedanya dasimu dengan usus para martir perang yang berurai?, Memamah setiap sudut kepekatan belukar, Serta ribuan nyawa, nyawa yang kau tukar dengan setumpuk kelakar atas nama ekonomi liberal, apapun dalihmu, dalih tentang fluktuasi angka dalam papan bursa saham, sama saja dengan lubang pantat retorika warfound ala hitler, mengalih nama dan angka-angka kedalam brangkas George soros hingga teler. Aku tak akan mengenang nama besarmu kecuali kau tertimbun dalam kakus neraka yang sama sekali tak kau kenali, tanpa tanah pemakaman digali, dengan ribuan tonjokkan Muhammad ali, yang tangan dan kakimu terikat dalam tali, dan setelahnya tanpa bisa mengakali. Anjing! Serapah mengayuh dengan ribuan dentuman meriam di Gaza, tank yang kalian ciptakan serupa himbauan jalan ketiga giddens, dengan jatah neraka masing-masin...

selamat tinggal harapan membagi

sekarang rasanya tidak ada yang harus dieja lagi; saatnya mulai mengeja diri, selamat tinggal impian, selamat tinggal harapan membagi, kali ini tak ada lagi bagian kamu, aku mau tinggal dengan seluruh upaya :”hanya untuk diriku sendiri”. untuk si brengsek hidup, aku akan katakan padamu :” aku akan tantang kamu sekali lagi!”; bahkan walau bumi tak berpihak padaku. Diposting ulang 2013~ seasons city, jakarta, 7 juni 2011