Skip to main content

Bukan geliat malam, tapi riak gerimis sore hari




Dalam cahaya, sekalipun membias
Aku bisa lihat pahamu yang membiru, masih tampak indah; sungguh
Kemarin, saat kamu datang didentang jam di stadion 12
Seperti dulu; kamu selalu tampak murung
Saat sore, saat aku tak berani menatap matamu

Aku sudah dengar suaramu diseberang telpon
Gelombang kata-kata membuat setiap hal lebih dekat
Sejauh ini, sejauh aforisma-mu tentang : langit dan bumi
Dan ribuan kata-kata itu, berpendar sudah
Bahkan ketika kamu ada; aku sudah tidak punya kata-kata lagi

Ada gerimis, simpang kota dan kamu
Yang juga masih seperti dulu : memperhatikanku dengan baik
Lebih baik dari yang kuminta

Begitupun lana, yang sungguh menyayangimu 
Karena kamu memperhatikan detail hidupnya

Malam jaring-jaring harapan
Adukan saja pada desirnya : tentang isak tangismu itu
Sebab jibril datang saat itu,
Yang berhasil menangkap setiap apa yang kamu minta
; kita hanya mengira tentang kemungkinan

Kamu juga masih seperti ibu,
Yang membuat gelombang kepekatan mengabu



Cirebon, Aurora hotel 1 maret 2009 

Comments

Anonymous said…
Seandainya aku memiliki wanita seperti ibu. Sepertinya hidup terasa sempurna, rasanya ingin menghapus semua kesedihannya menukarkan dengan seberkas senyuman

Popular posts from this blog

Perang Yang Takkan Pernah Kita Menangkan*

Gelombang sakralisasi Rockefeller meriak , ribuan borjuasi bomber bersembunyi dalam ketiak , apa yang kalian pahami tentang jatah arak?, Diatas meja starbuck dengan ribuan gelak, Apa bedanya dasimu dengan usus para martir perang yang berurai?, Memamah setiap sudut kepekatan belukar, Serta ribuan nyawa, nyawa yang kau tukar dengan setumpuk kelakar atas nama ekonomi liberal, apapun dalihmu, dalih tentang fluktuasi angka dalam papan bursa saham, sama saja dengan lubang pantat retorika warfound ala hitler, mengalih nama dan angka-angka kedalam brangkas George soros hingga teler. Aku tak akan mengenang nama besarmu kecuali kau tertimbun dalam kakus neraka yang sama sekali tak kau kenali, tanpa tanah pemakaman digali, dengan ribuan tonjokkan Muhammad ali, yang tangan dan kakimu terikat dalam tali, dan setelahnya tanpa bisa mengakali. Anjing! Serapah mengayuh dengan ribuan dentuman meriam di Gaza, tank yang kalian ciptakan serupa himbauan jalan ketiga giddens, dengan jatah neraka masing-masin...

selamat tinggal harapan membagi

sekarang rasanya tidak ada yang harus dieja lagi; saatnya mulai mengeja diri, selamat tinggal impian, selamat tinggal harapan membagi, kali ini tak ada lagi bagian kamu, aku mau tinggal dengan seluruh upaya :”hanya untuk diriku sendiri”. untuk si brengsek hidup, aku akan katakan padamu :” aku akan tantang kamu sekali lagi!”; bahkan walau bumi tak berpihak padaku. Diposting ulang 2013~ seasons city, jakarta, 7 juni 2011