Skip to main content

Knaya

“saat aku cium kamu, aku seperti es yang menggumpal bertahun-tahun kini mencair sudah. Rasanya aku tidak ingin jatuh cinta denganmu, tapi tak bisa”.


Kamu :Knaya, terlalu tegas untukku, itu yang membuat aku begitu sangat mengingatmu. Pada akhirnya, ketika bertahun-tahun sudah tidakpernah ketemu denganmu, disebuah gelap, ditemaram cahaya, saat itu aku sungguh tidak melihat jelas wajahmu seperti apa, aku hanya mengingatmu bertahun-tahun silam. Aku sudah begitu mengenal bau keringatmu, akupun begitu tahu lembut tanganmu dahulu. Saat semuanya pernah kita lupakan.Tapi begitulah sejarah, selalu berulang.Aku mulai melihat bahumu saat lari setelah mandi.Aku tidak mengerti kenapa bisa seperti itu,rasanya seperti disebuah dunia yang berbeda, dunia yang penuh dengan degupan.

Aku hanya laki-laki Knaya, yang kelak akan berakhir diRumah Sakit, atau Penjara,atau Kematian ditangan musuh, atau Lari kedalam pelukanmu. Sungguh, aku hanya ingin mempercepat segala sesuatunya agar sampai kedalam rengkuhan tanganmu Knaya, agar aku sembunyi disitu, agar aku bisa mengakhiri perjalanan ini dalam kehangatanmu.

Aku pernah mengatakan bahwa cinta bukanlah tentang perasaan yang kita amini, cinta adalah berusaha keras memperjuangkan komitmen yang kita sepakati untuk sebisa mungkin tidak kita langgar. Cinta adalah bagaimana memperjuangkan sesuatu menjadi sebuah ide yang kelak akan menjadi sejarah hidup kita, aku sungguh mempercayaimu untuk menjadi seorang ibu bagi dirimu sendiri, dan ibu untuk hidup yang sesungguhnya.

Hari-hariku lebih sering menangis Knaya, bahwa aku merasa begitu tertekan dan menderita memperjuangkan kesetiaanku terhadap komitmen yang aku buat sendiri, seolah-olah hal ini menjerat diriku, melumatku, dan lebih sering menghantui malam-malamku.

Aku katakan padamu sekali lagi sayangku, aku laki-laki yang demi memperjuangkan hidup, harus terus memikul banyak beban ketika berjalan. Harus terus mengepulkan kekuatan agar bisa bertahan, harus dengan keras mempertahankan apapun yang menjadi gairah itu. Saat ini, kau membuatku merasa dihargai.

Oya Knaya, aku mau memperkenalkan teman terbaikku padamu, namanya Jibril. Sejak aku belum sadar kenapa aku ada didunia ini, Jibril selalu menemaniaku, mengasuh hari-hariku. Dan ia ada saat kita makan nasi kuning malam itu, saat kamu bilang bahwa rasa tempenya tidak enak. Ia Jibril, ada disampingmu, ia teman yang sampai saat ini, tidak pernah mengeluh, tidak pernah membantah dan selalu menjadi pendengar yang paling setia untukku.

Aku juga pernah katakan bahwa kau Knaya, tidak akan pernah tahan bersamaku, seperti para wanita yang pernah aku kenal dalam hidupku, mereka lebih sering meninggalkan dan menelantarkan aku sendiri. Mereka lebih sering memilih apa yang tampak dari pada sebuah kedalaman. Mereka boleh memilih itu, kau juga boleh memilih sama seperti mereka Knaya, kau boleh meninggalkanku sama seperti mereka, kaupunbolehmenyakitiaku, kaupun boleh menelantarkan aku, kau boleh Knaya…boleh…

Aku pernah berpikir tentang semua rasa sakit ini, deritanya, gelagatnya yang rentan, biasnya yang seperti hendak menelanku. Aku pernah sama sekali tidak bisa berpikir berbulan-bulan, hanya merasakan sakit yang ketika aku mencoba menepisnya, sakitnya bahkan menusuk-nusuk lebih perih dari sebelumnya.

Aku pernah merasakan derita sehebat itu. Pada akhirnya aku lebih bisa menikmati rasa sakit, aku bisa tahu, bagaimana deritanya ketika diabaikan.

Saat aku mengatakan bahwa aku menarik diri darimu, sebenarnya aku telah jatuh cinta padamu. Saat aku tidak pernah ingin bertemukamu lagi, sebenarnya aku hanya ingin menetralisir dari setiap roman yang kumiliki bersamamu. Aku hanya ingin mengembalikan segala-sesuatunya untukku, kepada kesepianku sendiri, kepada hidup yang penuh dengan kengerian, dan kepada aku sebagai seorang yang terlanjur untuk hidup yang pernah mengenalmu dan hendak menghilangkan semua ingatan tentangmu.

“aku tidak bisa kau seperti itu” kalimat itu selalu terngiang, selalu mengingatkan aku untuk kembali mengingatmu, menitahkan hasrat untuk sepenuhnya kumiliki, dan membuatku sadar bahwa aku akan selalu ingin memelukmu.
“bagaimana jika aku bisa tahan denganmu cinta?”
ya, aku hanya bisa berharap bahwa hal itu terjadi, hal itu mungkin untukmu dan untukku. Oya, jika itu terjadi Knaya, aku akan berikan hal terbaik dalam hidupku untukmu. Yaitu hatiku. Kau boleh memiliki hatiku sepenuhnya.

Ada lebih banyak orang yang tidak mengerti kenapa kita bertemu Knaya, mereka akan menggeser lempengan ini, mereka akan mengira sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami, mungkin aku salah tentang prediksi ini, tapi aku ingin merahasiakan ini untuk kita. Untuk sesuatu yang lebih dari sekedar saat ini.

Aku tidak punya siapa-siapa kecuali kamu Knaya, yang bisa mengisi kedalaman hatiku yang entah sepinya akan bertahan berapa lama?, aku juga selalu ingin ketemu kamu Knaya, untuk melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan untukmu : memandangi wajahmu hingga kamu tertidur.


Cirebon, Februari 7, 2009
Agusgoh

Comments

Popular posts from this blog

Perang Yang Takkan Pernah Kita Menangkan*

Gelombang sakralisasi Rockefeller meriak , ribuan borjuasi bomber bersembunyi dalam ketiak , apa yang kalian pahami tentang jatah arak?, Diatas meja starbuck dengan ribuan gelak, Apa bedanya dasimu dengan usus para martir perang yang berurai?, Memamah setiap sudut kepekatan belukar, Serta ribuan nyawa, nyawa yang kau tukar dengan setumpuk kelakar atas nama ekonomi liberal, apapun dalihmu, dalih tentang fluktuasi angka dalam papan bursa saham, sama saja dengan lubang pantat retorika warfound ala hitler, mengalih nama dan angka-angka kedalam brangkas George soros hingga teler. Aku tak akan mengenang nama besarmu kecuali kau tertimbun dalam kakus neraka yang sama sekali tak kau kenali, tanpa tanah pemakaman digali, dengan ribuan tonjokkan Muhammad ali, yang tangan dan kakimu terikat dalam tali, dan setelahnya tanpa bisa mengakali. Anjing! Serapah mengayuh dengan ribuan dentuman meriam di Gaza, tank yang kalian ciptakan serupa himbauan jalan ketiga giddens, dengan jatah neraka masing-masin...

selamat tinggal harapan membagi

sekarang rasanya tidak ada yang harus dieja lagi; saatnya mulai mengeja diri, selamat tinggal impian, selamat tinggal harapan membagi, kali ini tak ada lagi bagian kamu, aku mau tinggal dengan seluruh upaya :”hanya untuk diriku sendiri”. untuk si brengsek hidup, aku akan katakan padamu :” aku akan tantang kamu sekali lagi!”; bahkan walau bumi tak berpihak padaku. Diposting ulang 2013~ seasons city, jakarta, 7 juni 2011